CAPCHAI

Pages

  • About Me
  • FRIEND'S
  • Contact

Jadi, pas liburan kemaren saya mengambil pekerjaan menjadi “Tour Leader”. Lucu sih, dari status WA teman saya yang temannya lagi butuh Tour Leader. Terus, saya chat dia tentang kabar tersebut. Disuruh chat ke nomor teman, temannya lagi. Entahlah, sudah ke pihak berapa jatuhnya. Huahahahahahaaa…

Saya chat dengan memperkenalkan diri dan menawarkan diri bersedia untuk menjadi tour leader 3 hari 2 malam di dua negara yaitu Singapore dan Malaysia ke nomor tersebut. Chat WA pun langsung dibalas, dia bilang kalo Tour Leader yang dicari sudah dapat orangnya. Ya sudahlah, bagi saya itu belum rejeki saya. Padahal saya juga sudah kangen untuk jalan – jalan ke Singapore dan Malaysia.

Terus, beberapa hari kemudian. Yang punya tour dan travel chat saya karena tamunya mendadak ganti jadwal keberangkatan. Tour Leader sebelumnya tidak bisa karena hari keberangkatannya di hari kerja bukan akhir pekan. Namanya rejeki ternyata tidak kemana yah Chai-Readers?!. Kalo emang rejeki kita mah bakalan datang ke kita lagi.

Tapi… Dadakan. Minggu sore ketemu sama yang punya tour dan travel-nya, Senin pagi saya harus berangkat tugas ke Singapore untuk menjemput tamunya. Semua itinerary dan pesan hotel penginapan dilakukan Minggu sore itu juga. Yah, saya kelabakan juga lah. Sudah lama nggak menginjakkan kaki ke Singapore dan Malaysia.

Mana dari Singapore ke Malaysia melalui transportasi umum naik bus lewat woodlands ke Larkin Johor Bahru (Malaysia). Bukan langsung naik bus dari Singapore ke Kuala Lumpur. Jadi, nanti di larkin baru naik bus ke Kuala Lumpur.

Perjalanan saya menjadi Tour Leader tidak semulus muka – muka artes koreyah yang ada di drakor sodara – sodariku sebangsa dan setanah air. Di hari kedua, tamunya ngambek nggak mau lanjutin perjalanan ke Kuala Lumpur. Padahal sudah di station MRT Bugis tinggal berangkat ke MRT Woodlands.

Tarik ulurnya cukup alot antara tamu dengan yang punya tour dan travel-nya. Masalah transportasi, tamunya keberatan naik transportasi umum. Karena harus jalan kaki yang lumayan capek sambil bawa barang bawaannya.

Jujurly, sebelum berangkat bertugas dan pada saat ketemu dengan tour dan travelnya yang kasih tugas dadakan ini. Saya pun sempat ragu untuk ambil pekerjaan ini. Karena serba dadakan, belum lagi saya juga tidak tahu karakter tamunya seperti apa.

Melihat itinerary-nya Cuma flash backpacker doang. Sekilas doang ke tempat – tempat wisata yang umum dikunjungi. Alias Cuma numpang poto doang disitu. Nggak ada masuk ke wahana apapun. Saya sempat berceletuk “Kalo itinerary kek gini mah nggak perlu tour leader, jalan sendiri juga bisa.”.

Tahu kan kalo naik MRT di Singapore itu… Ibaratnya, jalan ke stasiun MRT-nya 2 kilo, naiknya Cuma 2 menit doang. Baru juga Tarik napas, eh udah sampai aja ke statiun MRT yang dituju.”. Helaan napas ngos-ngosannya tak sebanding dengan kecepatan MRT-nya. -__-“

Dari saya sendiri sebagai tour leader, yang punya tour dan travelnya, dan tamunya punya sudut pandang masing – masing untuk berkeluh - kesah. Tamunya menganggap, sudah bayar mahal paket tournya tak sebanding dengan yang didapat. Dari yang punya tour dan travelnya, lah duit segitu mah memang pas-pasan untuk jalan – jalan ke dua negara tersebut. Kalo mau lebih mah tambah lagi dong. Nah, sayanya yang bekerja langsung dari lapangan… Cuapek poll antara jiwa dan raga. Ya Allah, nyarik duit kok gini-gini amat yak. Tapi harus tetap ramah dan tersenyum didepan tamunya. Prreeeetttttttttt…..

Balik lagi cerita tamunya mogok naik MRT, jadi hari kedua di Singapore itu Cuma setengah hari. Setengah hari lagi bakalan habis perjalanan ke Malaysia. Saya kasih waktu satu jam untuk belanja oleh - oleh ke Bugis Junction. Malah molor menjadi dua jam, belum lagi makan siang. Saat, makan siang di daerah bugis itu lah mereka merasa keberatan untuk melanjuti perjalanan. Mereka merasa naik publik transportasi khususnya MRT di Singapore itu kok capek banget.

Pengennya carter mobil gitu, langsung diturunkan ditempat tujuannya tanpa harus berjalan kaki jauh lagi. Padahal, dari awal persetujuannya emang naik publik transportasi. Usut punya usut, akar permasalahannya itu terjadi diawal karena miss communication. Jadi begini ceritanya, si tamu membeli paket tour dari A jalan – jalan ke Singapore dan Malaysia, Si A ini lemparkan ke tour dan travel B. Nah, komunikasi dari si B ke A tidak tersampaikan dengan baik ke tamunya. Komunikasi tamu ke A pun tidak begitu lancar. Karena si A kalo balas chat dari si tamu lama banget (ampe berhari – hari).

Briefing dari B tidak tersampaikan dengan sempurna ke tamunya, terjadilah miss communication ini pas di Hari H. Saya sudah tahu dan bayangin kalo perjalanan ini bakalan capek dan melelahkan banget. Lagian, tipe tamunya ini jalan santai banget. Dikasih waktu suka molor… Banyak banget waktu yang terbuang disuatu tempat karena kebanyakan poto-poto doang. Maklum, orang baru pertama kali jalan – jalan ke Singapore. Kan di Singapore banyak tempat – tempat spot yang kece, terus gratis lagi.

Tamunya satu keluarga (Bapak, Ibu dan Balita), mereka dari luar Batam. Jadi, saya menjemput mereka dari bandara Changi – Singapore. Sumpah yah, orang introvert kek saya harus menjadi teman seperjalanan beberapa hari yang saya baru ketemu saat itu juga rasanya… Deg-degan banget. Saya tidak tahu karakter mereka seperti apa, tipe perjalanan mereka seperti apa, gambling banget lah.

Akhirnya sih mereka mengalah dan mau ikutin itinerary yang telah dibuat. Itu, waktunya sudah sore banget lho… Sampai di Kuala Lumpur ditengah malam, besok paginya harus tour kota seharian. Di Kuala lumpur mereka cuma satu hari doang. Malam harinya mereka harus melanjutkan perjalanan liburan ke Bali naik pesawat dari Kuala Lumpur.

Di Kuala lumpur ada drama juga lah. Pas, naik cable car ke Genting. Kan tiketnya itu PP. Nah, yang kami naik ini cable car yang lama, yang baru lagi di maintenance pas hari itu. Mana rute perjalanannya lebih Panjang, pintu cable car-nya pun tidak bisa tertutup rapat. Sumpah horror banget, belum lagi kita berada diketinggian yang cukup curam. Saya dan tamunya berasa lagi uji nyali menantang maut sih, serem banget karena cable car-nya goyang-goyang kek mau jatuh. Jadi, tamunya merasa tidak berani untuk turun Kembali naik cable car-nya.

Untung di Kuala Lumpur carter mobil beserta pemandunya, jadi tidak terlalu capek mau kemana – mana dari pada di Singapore. Suruh naiklah mobil carterannya itu ke atas Genting Highland, terus pemandunya minta extra tambahan biaya. Awalnya mau ditalangin oleh tamunya, pas pemandunya minta biaya tambahan tersebut sebelum si tamunya naik ke pesawat. Tamunya bilang, biaya tambahan dilimpahkan ke tour dan travel-nya. :-P

Tugas saya berakhir sampai mengantarkan mereka ke Bandara Kuala Lumpur. Huft, rasanya lega banget… Setelah minta maaf dan salaman ke mereka hati saya menjadi plong. Terus, kapok deh menjadi tour leader lagi. :-p
Share
Tweet
Pin
Share
2 comments

Ternyata, sangat menyenangkan bagi saya hidup mandiri di Negeri Orang. Tanpa sengaja, saya sudah satu bulan lamanya karantina di Hotel Golden Crown, Hatyai - Thailand. Sebelum saya masuk ke Kapal, ada kebijakan perusahaan tempat saya bekerja mengharuskan karyawannya dikarantina. 

Karena ada kasus covid didalam kapal, maka karantina saya menjadi molor. Genaplah saya satu bulan menginap di kamar hotel. Bagi saya, Negara Thailand itu sangat menyenangkan untuk dikunjungi. Jadi, saran abang yah buat dek adek ku.... Negara ini wajib banget kamu kunjungi. 

Disini bangunannya klasik alias jadul tapi bersih, rapi dan terawat. Nggak kelihatan kumuh dan kotor. Infrasuktur seperti fasilitas umumnya pun juga mulus... Jalan raya disini tidak ada yang bopeng - bopeng kek muka saya, internetnya cepat, orangnya santuy dan tertib, harga pakaian jauh lebih murah dari pada kita. Dan untuk solo backpacker pun juga merasa aman, karena didaerah tempat wisatanya banyak sekali pusat informasi untuk turis.

Yang membuat saya tercengang adalah sinyal provider handphone-nya, ditengah laut pun bisa dapat. Bahkan didalam kapal masih bisa dapat pesan SMS, WA dan nonton streaming. -_-"

Sudah lima kota yang saya kunjungi di Negara Thailand, yaitu Bangkok, Krabi, Phuket, Songkhla dan Hatyai. Semuanya menarik buat saya, mereka itu benar - benar bersih negaranya. Numpang pipis di terminal bus maupun ditempat umum lainnya. Toiletnya beneran bersih dan tidak bau pesing.

Kota Hatyai adalah kota perbatasan antara Malaysia dan Thailand, jadi warganya banyak yang muslim. Makanan pun banyak yang halal, tapi entah kenapa tempat ibadah seperti bagunan mushola itu sangat jarang ada dimana-mana. Adanya, masjid agung tapi agak jauh dari kota. Saya belum pernah ke Masjidnya... Kalau di mall atau pusat perbelanjaan biasanya ada tempat sholatnya.

Ayam gorengnya sih disini yang lezat, apalagi kulit ayam gorengnya. Kering banget deh kek kerupuk. Harga makanan hampir sama dengan di Batam. Penduduknya pun mukanya hampir mirip seperti orang indonesia. Dan banyak juga yang pakai hijab, karena kota ini adalah kota perbatasan. Tiap akhir pekan selalu ramai turis dari Negara Malaysia, mereka satu bus datang dan menginap dihotel yang sudah ditentukan. 

Saya senang pegi ke pasar paginya... Walaupun jualan ditepi jalan raya, tapi tetap bersih dari sampah. Uang seratus bath, biasanya saya belanjain brokoli, tomat ceri dan pisang satu tandan. Itu persediaan stock makanan saya selama 3 hari. Makanan yang diberi oleh pihak hotel kurang sayur. Dan lucunya, apapun lauk yang kita pesan pasti ada telor gorengnya. Mau sarapan pagi, siang dan malam. Sampai pantat saya bisulan karena kebanyakan makan telor goreng.

Untung dihotelnya ada fasilitas bathtub, jadi setiap dua hari sekali saya berendam dengan air hangat. Huahahahaahahahaaaa.... Tapi beneran enak lho... Badan kita menjadi rileks kalau terkena air hangat, aliran darah pun menjadi lancar.

Brokolinya saya rebus menggunakan coffee / tea maker, kalau airnya sudah mendidih brokolinya bakalan mateng juga. Tubuh ini kan butuh serat juga...

Kita juga bisa order belanja makanan menggunakan aplikasi online, yaitu food panda. Ada swalayan juga yang menjual sayur mayur dan buah. Dan setiap hari selasa selalu aja ada promo gratis ongkir. :-)

Oiya, disini beli kacang - kacangan seperti kacang mente, pistachio dan alomond harganya murah banget. Susu yogurt satu botol besar pun juga murah harganya, biasanya saya beli di minimarket Seven Eleven. Karena disana juga banyak yang jual produk halal.

Jadi pengen menentap saya disini karena sudah satu bulan hidup di Kota Hatyai, Thailand. :-D    

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Dikawasan sekupang ada sebuah tempat jogging track yang cukup nyaman dan asri untuk kita berolahraga. Banyak pepohonan yang membuat tempat ini sangat segar untuk menghirup udaranya. Jogging tracknya lumayan panjang karena dibuat meliuk yang melingkar. Dan masih banyak monyet juga yang berkeliaran dikawasan tersebut. Waktu saya kesana, segerombolan monyet - monyet tersebut lagi berpindah tempat.

Masuk ke jogging track taman rusa bayar Rp.5000/orang. Dan disana juga ada segerompolan rusa yang dipelihara didalam suatu kawasan yang dipagar sehingga rusa-rusa tersebut tidak berkeliaran ke luar pekarangan. Jumlah mereka cukup banyak, tapi sayang pengunjung tidak boleh masuk ke kawasan rusa - rusa tersebut sehingga kita tidak bisa berinteraksi sama mereka.

Dibuat pondok - pondok juga disana untuk pengunjung biar bisa berduduk santai menikmati alamnya. Dan ada playground buat anak - anak, memang tempat ini lebih cocok untuk rekreasi bersama keluarga tercinta. Dibuat juga rumah - rumah pohon didalam kawasan ini. Tempat ini bukanya dari jam tujuh pagi sampai jam enam sore.  

Seandainya, tempat ini ditambah lagi ditanam tanaman bunga - bunga hias yang warna - warni akan lebih menarik, disana juga banyak burung dara atau merpati yang dipelihara.

Yuk, disimak vlog saya...



Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Saya mau berbagi cerita pengalaman saya ketika liburan ke Vietnam pada saat menaiki transportasi bus antarkotanya. Perjalanan saya waktu itu dari Ho Chi Minh City ke Mui Ne dan sebaliknya, lama perjalanan kurang lebih empat sampai lima jam. Saya menggunakan travel bus yang berbeda pada saat pulang dan perginya, jadi bisa membuat perbandingan antara kedua travel bus tersebut.

Travel bus pertama yang saya gunakan adalah Phuong Trang, perjalanan dari Ho Chi Minh City ke Mui Ne. Dan tipe tempat duduk busnya yang saya ambil sleeping bus, mereka menyediakan dua tipe tempat duduk yaitu tempat duduk bisa dan sleeping bus. Jadi, satu bus cuma punya satu tipe tempat duduk.

Yang menaiki travel bus Phuong Trang ini kebanyakan warga lokal Vietnam. Kalo turis luar negeri jarang sekali, dan setiap satu jam mereka selalu ada jadwal keberangkatannya. Jadi gampang untuk kita bisa menyesuaikan jadwal keberangkatannya. Waktu itu, saya beli tiket bus yang berangkat jam tiga sore. Tiket busnya tidak perlu dikonfirmasi lagi ketika kita berada di kounter tiketnya untuk berangkat. Dan menunggu busnya berada diseberang kounter tiketnya.

Sebelum jam tiga sore bus sudah stand by dan berangkatnya pun on time. Pertamanya saya heran, kan saya pesan tipe tempat duduknya yang sleeping bus?!. Tapi kok yang saya naiki bus tipe tempat duduknya yang biasa aja. Yah, seperti bus pada umumnya. Ternyata dari kounter tiketnya kita diantar ke tepi halte jalan besar untuk berganti bus yang sebenarnya.   

Harga tiket bus dari Ho Chi Minh City ke Mui Ne adalah 140.000 Dong. Keadaan didalam busnya sangat bersih, rapi dan nyaman. Oiya, busnya memiliki nomor tempat duduk jadi kita tidak perlu rebutan untuk mendapatkan tempat duduk. Tipe tempat duduk sleeping bus ini dua tingkat dan selonjoran. Jadi, kaki kita bisa selonjoran dan posisi badan kita berbaring. Untuk ukuran orang Asia seperti saya, sleeping bus-nya pas banget dengan tubuh saya. Jadi, kaki saya bisa benaran selonjoran ditempat duduknya. 

Untuk menaiki ke dalam bus, kita harus melepaskan alas kaki. Kita juga dapat air mineral, selimut dan kantong kresek untuk tempat alas kaki. Selain supir, ada satu karyawan yang mengecek tiket dan menanyakan kita akan turun dimana pada saat sampai di Mui Ne. Nah, kalo kita menaiki bus ini. Kita bakalan diantar sampai didepan penginapan atau hotel yang sudah kita pesan. Saran saya, kamu harus pesan penginapan atau hotel terlebih dahulu. Supaya kamu tidak repot untuk mencari penginapan atau hotel yang sudah kamu pesan. Dan bisa menghemat budget transportasi juga.

Akan tetapi, bus ini ternyata suka ngaret. -___-"

Oke lah, dari kounter tiketnya on time pas berangkat. Tapi kan kita cuma diantar ke tepi halte jalan besar untuk menunggu lagi bus yang berangkat ke Mui Ne. Hampir satu jam saya menunggunya. belum lagi busnya suka berhenti untuk mengambil penumpang lokal. Jadi, saya tiba ke Mui Ne kemalaman. Yah, cuma kurangnya itu aja sih...

Dari Mui Ne ke Ho Chi Minh City saya menggunakan travel bus The Sinh Tourist. Kalo kita mencari informasi di Internet, pasti turis-turis merekomendasikan untuk menaiki bus ini. Karena harganya lebih murah dan lebih cepat perjalanannya karena bus ini tidak ada mengambil penumpang lagi selain di kounter tiketnya. Saya dapat harga 129.000 Dong, dapat air mineral dan kantong kresek untuk alas kaki kita.

Busnya juga bersih, rapi dan nyaman. Oiya, kita harus konfirmasi lagi ke kounter tiketnya pas mau berangkat. Dan penumpangnya kebanyakan turis luar negeri, selain itu jadwal keberangkatannya tidak setiap jam ada. Adanya dijam-jam tertentu aja, dan beli tiketnya tidak bisa online tapi secara langsung (on the spot). Sedangkan travel bus yang lain bisa beli secara online.

Mau lihat busnya seperti apa ?! Ayo, ditonton vlog saya dibawah ini...

   

Share
Tweet
Pin
Share
3 comments
Tahu kah kamu, bahwa Studio film terbesar di Indonesia itu berada di Kota Batam. Namanya adalah Infinite Studios. Mereka memiliki dua studio, yaitu studio film dan studio animasi. Nah, yang bisa kamu kunjungi untuk tour saat ini adalah studio filmnya. Jadi mereka sudah bekerja sama dengan beberapa tour & travel untuk studio filmnya dijadikan salah satu tempat wisata di kota Batam. 

Kamu tidak bisa datang secara individual kesana, kecuali kamu diundang khusus sama mereka. Dan selama setahun mereka hanya buka selama empat bulan saja untuk tournya. Kalau studio filmnya lagi dipakai untuk syuting film, maka mereka tidak menerima peserta tour dari agensi tour & travel manapun.

Mereka memiliki dua studio, yaitu indoor dan outdoor. Studio indoor memiliki dua studio dan yang paling besar ukurannya adalah 30.000 feet2 (square feet). Sedangkan studio outdoor luasnya 1 Hektare.

Ada beberapa area yang dilarang untuk memfoto dan merekam video, karena kita sebagai peserta tour juga harus menjaga privacy client mereka. Saya sudah dua kali berkunjung ke Infinite Studios, properti dan set didalam studio filmnya berubah. Ya iyalah, karena emang nggak bakalan sama. 

Bagi saya sangat worth it banget bisa mengikuti kinema tour ini. Saya jadi tahu bagaimana proses sebuah film itu akan diproduksi. Properti set-nya dibuat oleh orang lokal (orang Batam) dan mereka membuat properti set-nya di infinite studios. Wow, properti set-nya yang mereka buat beneran seperti asli. 

Oiya, saya menggunakan govakansi untuk berkunjung ke Infinite Studios. Dan mereka lagi ada promo dari bulan Mei sampai Agustus. Harganya yaitu Rp.120.000/orang, sedangkan harga normalnya Rp. 150.000/orang. Setiap hari Selasa / Rabu / Sabtu / Minggu, jam 10.00 - 11.40 WIB atau 14.00 - 17.00 WIB. Peserta tour minimal lima orang. 

Dan ini adalah vlog saya waktu berkunjung kesana... 
*jangan lupa dilike dan subscribe channel youtub saya yah chai-readers... :-D*


Share
Tweet
Pin
Share
6 comments
Mengunjungi negara Vietnam bagi saya adalah seperti memasuki dunia baru antah barantah. Terasa asing banget bagi saya ketika pertama kali menginjakan kaki di Negara ini. Saya disambut dengan petugas imigrasi yang sangat jutek dan judes ketika mau mengecap paspor saya. Dia menanyakan tiket pesawat saya dengan muka judes dan nada suara yang tinggi. Karena saya kelimpungan mencari tiket  pesawat di tas sandang saya yang nggak ketemu-ketemu. Si petugas imigrasi mukanya makin jutek tingkat kabupaten dan membuat saya makin gugup.

Saya tarik napas sebentar dan menghelanya perlahan mencoba menenangkan diri sejenak biar pikiran saya jernih. Dan alhamdulilah, akhirnya ketemu juga tiket pesawat saya. Padahal dari tadi juga sudah ketemu karena gugup dan tergesa-gesa mencarinya jadi pikiran saya blank tidak menyadari kalo tiket pesawat saya itu yah secarik kertas yang sudah saya bolak - balik berkali-kali didalam tas sandang saya. -____-"

Setelah melewati imigrasi, saya langsung mencari kartu handphone untuk internetan. Tujuannya adalah biar saya bisa berkomunikasi dengan teman saya melalui WA. Teman saya sudah duluan sampai di Ho Chi Minh City semalam, kita mau ke Kota Mui Ne menggunakan BUS. Saya dan teman saya sudah membeli tiket busnya. 

Pesawat saya sampai di Ho Chi Minh City dari Singapore jam dua belas siang dan jadwal bus saya ke Kota Mui Ne jam tiga sore. Jadi, setelah saya tiba di Ho Chi Minh City langsung berangkat ke Mui Ne. Saya liburannya lama di Kota Mui Ne, Ho Chi Minh City hanya tempat transit saja.

Oiya, kartu handphone yang saya gunakan untuk internetan adalah Viettel. Harganya 160.000 Dong, saya cari yang paling murah harga paketannya. :-P

Saya membeli kartu handphone setelah keluar dari Imigrasi, karena disana bakalan banyak yang menawarkan kartu handphone dan pandai-pandai kita mencari harga yang murah dengan kualitas yang oke. Jadi, setelah paspor kita di cap bakalan ada eskalator turun menuju pintu keluar. Sebelum pintu keluar, disana banyak kios-kios yang menjual kartu handphone dan money changer. 

Dan saya menaiki Bus nomor 109 dari Bandara untuk menuju ke kounter tiket bus ke Mui Ne. Harga tiket bus bandara cuma 20.000 Dong, sedangkan ke Mui Ne 140.000 Dong. Nah, dari bandara kamu minta turun di Pemberhentian terakhir. Pemberhentian terakhirnya itu adalah sebuah taman yang sekaligus menjadi bus terminal mereka. Teman saya sudah menunggu saya di Bus Terminal, dan kami sama - sama akan berjalan kaki menuju ke Kounter Tiket Bus ke Mui Ne. 

Ternyata jaraknya tidak jauh dan kounter tiketnya juga mudah dicari melalui google map. Nah, saya sempat culture shock melihat pengemudi kendaraan di Vietnam yang super duper ngebut di jalan raya. Khususnya pengendara motor yah... 

Mau menyebrangi jalan raya aja seperti adu nyali. Teman saya mengajarkan saya kalo kita mau menyebrang jalan, kita harus pelan - pelan. Biarkan mereka mengemudi dengan laju lewat terus, kita tetap jalan pelan - pelan. Lama - kelamaan mereka akan mengalah dengan sendirinya. Jadi kita pejalan kaki yang harus mengalah dengan pengendara mobil atau motor disana. #hadeuh

Dari Ho Chi Minh City ke Mui Ne lama perjalanan kurang lebih 4 - 5 jam. Bus yang saya naiki ngaret. Okelah, pas jam tiga sore busnya sudah berangkat dari kounter tiketnya. Ternyata, kita harus tukar bus. Pantesan saja, saya dan teman saya sudah pesan bus yang sleeping bus tapi bus yang datang cuma bus biasa. 

Baru berjalan beberapa kilo meter kedepan, kemudian busnya berhenti dan  semua penumpang turun. Kita harus menunggu bus yang ke Mui Ne di Halte tepi jalan raya. Akhirnya, busnya datang juga. Dan kami berangkat jam empat sore.

Bus yang saya naiki ke Mui Ne adalah Phuong Trang. Pembahasan bus akan saya buat sendiri postingannya sekalian sama vlognya. :-)

Semua penumpang yang didalam bus diantar langsung sampai didepan penginapan atau hotel yang telah kita pesan. Jadi, tips-nya kalo kamu mau main ke Mui Ne. Alangkah baiknya sudah pesan hotel atau penginapan terlebih dahulu. Jadi kita bisa hemat budget juga, tidak mengeluarkan uang transportasi lagi untuk sampai di penginapan atau hotel yang telah kita pesan.

Sampai di penginapan, saya langsung check in dan meletakkan barang bawaan saya didalam kamar. Saya dan teman saya langsung mencari rental motor untuk besok yang agendanya kami akan menjelajahi kota Mui Ne dengan sepeda motor. Tempat hotel kami menginap, ternyata mereka menyediakan jasa rental motor untuk satu hari (24 jam). Harganya 160.000 Dong, saya dan teman saya tidak langsung menyewa motor disana tapi kami harus mencari perbandingan harga ditempat lain.

Kami pun berjalan keluar sembari mencari tempat rental motor disekitaran hotel. Karena sudah jam sembilan malam dan banyak toko - toko sudah tutup (cuma beberapa yang masih buka). Kami menemukan salah satu kantor tour travel lokal, didepan kantornya tertulis mereka menyewakan sepeda motor. Kami tanya ke petugasnya dan dia modusin kami untuk ikut paket tour jeep yang harganya jauh lebih mahal dari pada sewa motor. #amsyong

Karena sudah malam dan lelah, kami putuskan untuk kembali ke hotel dan menyewa motor ditempat saya menginap. Lagian kalo berdua juga jatuhnya lebih murah, harga akan bagi dua dengan teman saya.

Keesokan harinya pun kami berangkat menggunakan sepeda motor untuk menjelajahi Kota Mui Ne seharian...

Kemana saja saya kunjungi tempat wisata di Kota Mui Ne... ?!. 

Silahkan nonton vlog saya yah dibawah ini: 


         
Share
Tweet
Pin
Share
7 comments

Saya heran dengan negara Thailand, heran dengan yang positif yah. Walaupun negara mereka tidak pernah dijajah sama bangsa lain tapi masyarakatnya itu tertib banget. Contohnya, waktu saya berkunjung ke Taman Lumphini melihat parkiran sepeda motor yang sangat rapi banget dan disana tidak ada tukang parkirnya. Masyarakat yang berkunjung kesana dengan sepeda motor terus memparkirkan sepeda motornya dengan sangat rapi aja gitu.

Dan waktu menunggu BTS juga mereka membuat satu jalur antrian yang sangat rapi. Tidak ada yang menunggu didepan pintu tapi berbaris disamping kiri kanan dekat pintu yang sudah disediakan jalur mengantrinya. Mau tidak mau saya pun ikut mengantri dengan tertib.

Taman - Taman kotanya juga bersih dan tidak ada sampah sisa makanan yang tercecer disudut-sudut tempat duduk. Sehingga membuat saya sangat nyaman sekali traveling ke negeri gajah putih ini.

Untuk mengunjungi Taman Lumphini, saya dari BTS Ratchathewi ke BTS Rachadamri dan harus berjalan kaki beberapa meter lagi. Kalo dari Google Maps sih bilangnya lama perjalanan 8 menit, tapi setelah saya berjalan untuk sampai kesana lebih dari delapan menit deh. Malahan lumayan jauh juga tempatnya. Padahal ada yang lebih dekat turun di BTS mana gitu, tapi si Google saranin turun di BTS Rachadamri. -___-"

Untuk ongkos dari BTS Ratchathewi ke BTS Rachadamri cuma 23 Bath.

Taman Lumphini adalah taman kota yang dibuka untuk umum, saya pergi kesana sore hari jadi banyak yang lagi jogging. Memang disediakan jalurnya dan juga ada senam aerobic yang dipandu sama instrukturnya secara gratis. 

Tamannya cukup luas, terdapat  danau, playground, lapangan takraw, tempat duduk, toilet, peralatan fitness outdoor dan pohon - pohon besar yang sangat rindang. Tamannya juga ramai dengan beraneka binatang, ada burung merpati, gagak, bangau, biawak dan ikan mas. 

 Berikut vlog yang saya buat saat berkunjung ke sini... :-)

     
Share
Tweet
Pin
Share
18 comments
Saya takjub dengan bangunan yang berada di Grand Palace, sungguh megah dan bagus. Detail - Detail ornamen yang membuat saya tercengang dengan keindahannya. Oiya, saya ke Grand Palace dari Pratunam tempat saya menginap. Saya menaiki tranpsortasi umum dari BTS sampai Boat, seru banget lah bisa menaiki transportasi umum dari udara, darat dan laut di Thailand.

Sebelum saya ke Grand Palace, saya Foot Massage dulu di Lobby hotel karena sudah 3 hari kaki berjalan terus dan kurang istirahat sehingga kaki saya terasa sakit banget. Nah, ada cerita lucu juga waktu saya Foot Massage. Jadi kan semalam saya sudah tanya harga untuk Foot Massage berapa harganya selama satu jam sama kakak-kakak penjaganya.

Dia bilang 250 Bath / jam, saya bilang besok saya mau Foot Massage. Kaki saya beneran sakit banget, jalan aja saya paksain sampai pelan-pelan banget. Besok siangnya saya datang ke lobby dan kakak-kakak penjaganya baru buka. Waktu itu masih satu orang aja penjaganya, terus beberapa menit kemudian berdatanganlah kakak-kakak kw dan ori sebagai pemijetnya.

Saya disuruh tukar celana pendek dan saya ganti di kamar mandi Lobby. Terus saya balik lagi ke tempat Foot Massage-nya, kakak KW tanya "Where do you come from?!" dan saya menjawab "Indonesia". Mereka bergantian bilang "Handsome..." dan saya bilang "Thank you". Huahahahahhahaaaa.... Saya tersipu malu saat mereka semua bilang "Handsome".

Tenang, yang memijat kaki saya kakak-kakak ori bukan yang kw, pijetannya enak banget. Berasa banget setelah dipijet aliran darah saya mengalir lancar ke seluruh tubuh. Entah saya dapat bonus ato foot massage itu termasuk Massage tangan dan bahu. Jadi bukan kaki saya aja yang dipijet, melainkan lengan dan bahu saya juga. Beneran deh, badan saya menjadi seger banget, kaki saya yang sakit sudah tidak berasa sakit lagi. 

Tapi saya masih was-was sih pas mau bayar, karena saya kan tadi cuma mau Foot Massage aja tapi kakak orinya pijetin lengan dan bahu saya juga. Ya sudahlah, kalo harus bayar lebih nggak apa2 pikir saya. Lagian, badan dan kaki saya juga udah tidak berasa sakit malah jadi fresh. Dan pas saya bayar cuma kena 200 Bath, padahal sudah saya tanya semalam dan harga yang tertera memang 250 Bath untuk Foot Massage.

Alhamdulilah, dapat diskon dari kakak-kakak yang mijetnya. Saya jadi malu sudah berprasangka buruk tadi. Hehehehehheheheheee.....

Balik lagi ceritanya ke Grand Palace.

Penginapan saya itu letaknya masuk ke gang dan tidak ditepi jalan besar. Jadi kita harus jalan lumayan jauh untuk ke BTS Ratchathewi. Tidak jauh kali dinkz tapi lumayan... Nah, karena saya mau ke BTS Saphan Taksin jadi harus interchange dulu ke BTS siam. Vending machine untuk masuk ke BTS-nya cuma menerima uang coin 1, 5 dan 10 Bath. Uang kertas nggak bisa, jadi kalo kamu mau tukar duit pergi aja ke loket dan bilang mau tukar uang koin.

Saya ke Bangkok baru dua kali, ini yang kedua saya kunjungi Bangkok. Pertama itu tahun 2014, saya di Bangkok dulu cuma berkunjung ke Taman sebelah Chatuchak Market dan Chatuchak Market. Karena cuma dua hari satu malam saja saya berada disana jadi tidak banyak tempat yang saya eksplore, masih kurang puas buat saya. Dulu saya menginap didaerah Khaosan Road, dan sempat main ke Grand Palace juga tapi cuma numpang poto diluar.

Nah, kali ini kesempatan saya untuk mengeksplore Bangkok selama 5 hari. Dari BTS Saphan Taksin kita harus naik boat ditepian sungai Chao Phraya, boatnya pun bermacam-macam harga. Saya ambil boat yang harga merakyat aja yaitu 15 Bath yang benderanya warna orange, sebenarnya saya tidak tahu pasti akan turun didermaga mana. Ya sudahlah, saya mengikuti arus turis-turis bule yang didalam kapal nanti mereka turun dimana maka saya ikutin aja.

Singkat cerita saya sampailah di Grand Palace, harga tiket masuknya 500 Bath. Karena saya datang sore (jam setengah tiga) jadi pengunjungnya tidak terlalu ramai, saya masuk aja tidak perlu desak-desakan malah plong banget. Tapi didalam cukup ramai sih sama pengunjung wisatawan. Pokoknya susah banget untuk poto yang sendirian pasti ada aja yang dibelakang lalu-lalang lewat. 

Nah, tips buat kamu yang mau berkunjung ke Grand Palace datanglah di pagi atau sore hari karena pengunjungnya tidak bakalan ramai. Alhamdulilah, walaupun saya cuma seorang diri tapi bisa berpoto tanpa dibelakangnya ada orang lalu-lalang dengan mengandalkan tripod gurita doang. 




Baju yang saya kenakan itu bukan baju kokoh yang saya bawa dari Batam, tapi saya beli di Chatuchak Market dengan harga 240 Bath. Worth it bangetlah dengan harga 500 Bath kamu berkunjung ke Grand Palace. Saya suka dengan ornamen - ornamen gedungnya dan untuk poto instagramable keceh banget lah.

Dan ini vlog saya waktu berkunjung ke Grand Palace... 


*jangan lupa di like dan subscribe yah channel youtube saya... :-)*

Share
Tweet
Pin
Share
22 comments
Ternyata ditempat saya menginap (Pratunam, Bangkok - Thailand) terdapat banyak restaurant atau pedagang makanan yang halal. Jadi saya tidak kesulitan untuk mencari makan, tapi karena saya low budget. Sedangkan harga makanan di restaurant halal itu cukup tinggi yaitu harga makanannya sekitaran seratusan Bath keatas dalam satu menu. Nah, budget saya harus mencari makanan halal dengan harga dibawah seratus Bath yang murah meriah dan enak...

Alhamdulilah saya ketemu, walaupun harus masuk kedalam gang dan pasar. Rasanya senang banget, seperti menemukan harta karun. Saya sempat was-was juga sebelum pergi ke Bangkok, apakah dihari raya kedua bakalan ada yang jualan makanan halal disana?!. Kekhawatiran saya musnah setelah saya berjalan dan masuk kedalam gang pasar menemukan spanduk yang bertuliskan "Muslim Food". #sujudsyukur

Hari pertama saya sampai di Bangkok pada hari Sabtu, nah dihari minggu-nya saya mau makan siang ketempat warung yang saya makan kemarin ternyata tutup, bukan mereka aja yang tutup tapi restaurant yang ada label halal-nya juga pada tutup. Saya tidak tahu pasti juga apakah setiap hari minggu warung - warung makanan halal pada tutup ?!. Saya pun kebingungan untuk mencari makan, padahal perut sudah keroncongan. 

Hari minggu itu rencananya saya mau pergi ke Chatuchak Market, tapi sebelum pergi kesana saya harus mengisi perut dulu. Setelah saya berjalan cukup jauh dari penginapan disekitaran daerah Pratunam, saya tidak menemukan restaurant atau warung makanan halal yang buka. Ada sih, waktu itu kebab tapi saya masih berusaha mencari nasi biar perut ini bisa terisi dengan kenyang. 

Menurut informasi yang saya dapat di dunia maya, didaerah Chatuchak Market ada warung yang jualan makanan halal. Dengan optimis saya langsung pergi ke daerah Chatuchak Market tanpa harus membuang waktu untuk mencari warung yang jualan makanan halal didaerah sekitaran Pratunam. Untuk cerita makanan halal di Chatuchak Market akan saya buat postingan tersendiri kedepannya. :-)

Ngomongin makanan halal di Bangkok, Thailand. Rasa makanannya itu cenderung manis dan tidak pedas. Karena saya tidak terlalu suka dengan makanan pedas jadi pesan yang manis - manis aja. Heheheheeheeee...

Saya nyobain makan Beef Fired Briyani yang harganya 50 Bath di Pasar Pratunam (warung yang ketemu dihari pertama). Nasi Briyani-nya berwarna kuning seperti nasi kuning kalo di Indonesia. Sedangkan daging sapinya terasa manis dan lembut, dengan lahapnya saya memakannya. Enak dan pas dilidah saya tapi porsinya tidak terlalu banyak seperti nasi bungkus padang. 

Saya mau kasih tips buat kamu, jadi kalo kamu makan siang jangan lupa sekalian beli makanan untuk malamnya. Jadi dibungkus aja menu satu porsi terus mampir ke hostel sebentar untuk meletakkan makanannya. Kalo jarak hostel sama tempat penjual makanannya tidak jauh yah...

Saya lakukan seperti itu setiap kali makan siang, saya akan bungkus satu porsi untuk makan malam. Karena saya punya pengalaman dihari pertama, saya pikir malam akan mudah lagi untuk mencari makanan halal ternyata susah. Warung yang saya datangi tadi siang sudah tutup dan akhirnya saya beli makanan instan yang dijual di Sevel (Seven Eleven). 

Nasi ikan fillet saya beli dengan hati yang sangat ragu dan galau, soalnya tidak ada label halalnya. Karena makanan instan yang sejenis ada daging babi-nya, pikiran saya positif aja karena yang saya beli ini kan nasi sama ikan fillet isinya. Kalo bahan-bahannya ada mengandung daging babi-nya "Allahu A'lam".

Hari berikutnya saya nyobain juga Beef Briyani dengan harga 60 Bath, kalo yang ini daging sapinya tidak dibakar tapi seperti dendeng batokok. Rasanya juga manis dan enak, sedangkan nasi briyani-nya berwarna kuning. Porsinya menurut saya pas (tidak banyak atau sedikit). 

Dan satu lagi saya nyobain juga Chicken Noodle Dry yang harganya 50 Bath, mienya seperti bihun dan dikasih suwiran ayam dengan tauge beserta cercahan kacang. Rasanya manis, dan saya coba taburkan sedikit bubuk cabe  yang disajikan diatas meja dan mencampurkannya dengan makanan saya. Yang awalnya rasanya masih manis berubah menjadi pedas banget. Padahal bubuk cabe yang saya taburkan cuma sedikit. -____-"

Begitulah pengalaman saya makan makanan halal yang enak dan murah di Pratunam Market, Bangkok - Thailand. Karena saya jarang makan sayur, jadi saya siasati dengan membeli buah2an potong atau jus segar yang dijual dipinggir jalan. Tubuh saya butuh serat biar tetap sehat. :-)

Dan lucunya, kalo saya masuk ke pasar kan pastinya banyak juga yang jualan daging babi bakar. Jadi, setiap kali saya lewat pasti tubuh saya bau dengan asap daging babi. T_____T *abang haram dek...*

Selama di Pratunam saya makan disatu warung saja, karena sudah cocok rasa makanannya dan kantong saya. :-)

Berikut vlog saya...




Share
Tweet
Pin
Share
35 comments
Masih banyak yang mengira perjalanan menuju Magelang adalah perjalanan menuju Yogyakarta. Apalagi jika Candi Borobudur identik dengan kota Yogyakarta. Namun sebenarnya, Magelang merupakan salah satu daerah yang terletak di Jawa Tengah, dan jaraknya yang memang sangat dekat dengan kota Yogyakarta.

Untuk mencapai Magelang bisa dilakukan dengan terbang mengunjungi Yogyakarta terlebih dahulu menggunakan pesawat terbang. Rata-rata harga tiket pesawat ke Yogyakarta cukup murah, yaitu berkisar di angka Rp 300.000.

Bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Magelang, setidaknya dapat berburu tiket pesawat murah sejak dari sekarang, dan salah satunya adalah harga tiket pesawat Batik Air yang hanya berkisar Rp 350.000 hingga Rp 450.000 untuk satu kali perjalanan ke kota Yogyakarta.

Selain harga tiket pesawat Batik Air yang cukup murah, terdapat beberapa tiket dari maskapai penerbangan lainnya yang cukup pas di kantong untuk mengujungi Yogyakarta. Dari Yogyakarta, perjalanan dapat dilanjutkan menuju Magelang dengan menggunakan kendaraan umum atau menyewa kendaraan seperti mobil dan motor.

Tempat-tempat Wisata Menarik Selama di Magelang

Dijuluki kota seribu bunga dan menawarkan keajaiban dunia seperti Candi Borobudur membuat Magelang terus menebar pesona wisatanya dari tahun ke tahun.

Hal ini belum ditambah lagi dengan kehadiran Punthuk Setumbu atau Gereja Ayam yang dikenal sebagai salah satu spot foto menarik yang Instagramable. Namun, Magelang masih menyimpan beberapa tempat wisata menarik lainnya yang layak untuk dikunjungi, so mari mengelilingi Kota Magelang.

Penasaran seperti apa saja tempat-tempat wisata yang menarik di Magelang? Berikut beberapa pilihannya:

Melihat dua gunung dari Ketep Pass 
sumber:hobiholiday.com

Bagi wisatawan yang belum pernah melihat dua puncak gunung Merapi dan Merbabu secara bersamaan, maka mengunjungi Ketep Pass adalah pilihan yang tepat.

Ketep Pass sebenarnya adalah sebuah gedung yang berisikan berbagai pengalaman tentang dunia Vulkanologi. Namun, berada di sekitar Ketep Pass memberikan pemandangan yang menarik dimana wisatawan bisa melihat hamparan sebagian kota Jawa Tengah dan sebagian Yogyakarta dari kejauhan.

Jika ingin melihat lebih jelas, maka pihak pengelola Ketep Pass menyediakan sebuah teropong khusus yang dapat digunakan untuk melihat pemandangan kedua puncak gunung yaitu Merapi dan Merbabu dari kejauhan.

Untuk masuk ke tempat ini, pengunjung hanya perlu membayar Rp 7.000 saja lho.

Air Terjun Kedung Kayang 
 sumber:photobucket.com - Air terjung Kedung Kayang

Tempat liburan berikutnya yang wajib untuk dikunjungi adalah Air Terjun Kedung Kayang yang lokasinya cukup dekat dengan gardu pandang Ketep Pass.

Air terjun ini memiliki tinggi sekitar 40 meter dengan aliran air yang cukup deras. Apalagi air terjun ini berada di lokasi yang sangat dekat dengan desa-desa di Magelang yang masih menjaga keasriannya membuat siapa saja yang datang akan merasakan ketenangan yang tiada duanya.

Pengunjung atau wisatawan yang ingin mendapatkan suasana alami dengan berlibur dari tempat ini hanya perlu merogoh kocek hingga Rp 25.000 saja.

Mendaki Gunung Andong
 sumber:travelanggi.wordpress.com

Liburan selanjutnya yang bisa dijadikan adalah dengan mendaki gunung. Tenang saja gunung yang akan dilalui ini tidak sesulit gunung Merapi atau Merbabu.

Gunung Andong namanya, salah satu gunung wisata di kota Magelang. Jalur pendakiannya tidak terlalu berat dan hanya memiliki ketinggian 1.726 Mdpl dengan jarak tempuh dari kaki gunung hingga puncaknya yang memakan waktu selama dua jam.

Serunya lagi, diatas puncak gunung Andong terdapat masyarakat yang juga warga di sekitar kaki gunung Andong menjajakan berbagai perlengkapan mendaki hingga makanan bagi para wisatawan yang ingin berkemah di puncak gunung.

Sembari menikmati sunset atau bintang-bintang malam, tentunya sajian kopi hangat yang ditawarkan masyarakat di Gunung Andong adalah teman yang pas untuk liburan kita.

Jelajah Bukit Tidar 
sumber:jalanwisata.id

Tempat wisata berikutnya yang tepat dijadikan sebagai kunjungan liburan tidak terlupakan adalah Bukit Tidar yang merupakan lahan terbuka yang menyajikan panorama cantik Magelang dari ketinggian.

Bahkan jika ingin menjelajahi lebih dalam lagi, di Bukit Tidar terdapat beberapa tempat wisata religi dengan mengunjungi makam Syekh Subakir yagn disebut-sebut sebagai ulama dari Persia yang menyebarkan agama Islam di Jawa Tengah.

Belum puas dengan menjelajahi tempat-tempat wisata di Magelang ini? Yuk cari tahu harga tiket pesawat Batik Air dari sekarang, agar liburan menjadi lebih tenang.
Share
Tweet
Pin
Share
2 comments
Banjarmasin adalah salah satu kota yang wajib dikunjungi jika Anda peminat wisata religi. Sebagai kota di Kalimantan dengan corak Islami yang cukup kental, Banjarmasin memiliki beberapa masjid kuno dengan riwayat yang akan menarik setiap pencinta sejarah.


Source : beyoung

Tertarik untuk napak tilas jejak sejarah Islam di Kalimantan Selatan? Baca dulu riwayat tempat-tempat wisata religi ini sebelum memesan tiket murah ke Banjarmasin! Dijamin deh bikin kamu makin penasaran dengan keindahannya. 

  • Masjid Raya Sabilal Muhtadin
Masjid Raya Sabilal Muhtadin merupakan masjid terbesar di Banjarmasin. Berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman, tepat di tengah kota, masjid ini sudah ada sejak zaman Belanda. Namanya diambil dari nama ulama yang menyebarkan Islam di Kerajaan Banjar, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjary (1710-1812). Nama besar ulama ini konon tersebar hingga ke Malaka, Mekah, Madinah, Istanbul, Filipina, Bombay, dan Mesir. 

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjary telah menulis beberapa kitab yang berperan penting dalam penyebaran Islam di Banjarmasin. Salah satu karya terkenal ulama ini adalah kitab hukum fiqih bertajuk Sabilal Muhtadin, yang ditulis atas permintaan Sultan Tahmidullah.

Ciri khas masjid ini adalah kubah besar berwarna emas yang dikelilingi empat menara kecil, lengkap dengan menara azan yang menjulang di sebelahnya. Hiasan kaligrafi pada masjid ini dilapisi tembaga berwarna hitam, sehingga kesannya lebih tegas. Beberapa bagian masjid ini dihiasi oleh ukiran khas Kalimantan Selatan.

  • Masjid Sultan Suriansyah
Masjid Sultan Suriansyah tidak megah, tetapi tetap terkenal sebagai masjid tertua di Kalimantan Selatan. Masjid ini merupakan peninggalan raja Muslim pertama Kerajaan Banjar, Sultan Suriansyah, yang berkuasa dari tahun 1526 hingga 1550. Arsitektur masjid ini menunjukkan gabungan pengaruh desain Masjid Agung Demak, arsitektur Jawa, serta rumah adat khas Kalimantan Selatan. Hal ini membuktikan proses asimilasi budaya yang terjadi ketika Islam menyebar dari Jawa ke Kalimantan Selatan.

Ciri khas paling menonjol dari masjid ini adalah atapnya yang tidak berbentuk kubah seperti masjid pada umumnya, tetapi meruncing dengan atap tumpang khas Banjar. Masjid ini juga memiliki struktur panggung, yang sering terlihat pada rumah adat Kalimantan. Ketika Anda masuk ke dalam, Anda akan melihat lebih banyak lagi pengaruh desain Jawa Kuno serta Banjar di berbagai area.

Masjid Sultan Suriansyah berdiri tepat di sebelah Sungai Kuin, yang juga terkenal sebagai lokasi pasar terapung Banjarmasin.

  • Makam Datu Anggah Al-Alamah Muhammad Amin
Anggah Al-Alamah Muhammad Amin adalah ulama terkenal di Banjarmasin yang terkenal sebagai sosok bijak dengan banyak murid, walau tidak pernah mendirikan pesantren. Dikenal oleh warga lokal sebagai Datu Anggah Amin, ulama ini terkenal sebagai sumber saran-saran bijak, baik untuk warga biasa, bangsawan, maupun murid-murid studi Islam.

Datu Anggah Amin dimakamkan di area yang sekarang merupakan Kelurahan Banua Anyar. Makam ini sekarang masih menjadi salah satu objek wisata religi bagi peminat sejarah perkembangan Islam di Banjarmasin.

  • Kubah Makam Tuan Guru Surgi Mufti
Mufti Jamaluddin adalah tokoh agama Islam yang juga merupakan keturunan bangsawan bernama Ratu Aminah binti Pangeran Thaha. Dikenal juga dengan nama Tuan guru Surgi Mufti, tokoh ini merupakan ulama yang tidak hanya dihormati warga biasa dan bangsawan, tetapi juga orang-orang Belanda di Banjar pada era kolonial. 

Ketika Tuan Guru Surgi Mufti meninggal pada tahun 1902, beliau dimakamkan di dekat kediamannya, yang sekarang menjadi Jalan Masjid Jami Banjarmasin. Karena ada bentuk kubah yang khas, area makam ini kemudian dikenal sebagai Kubah Sungai Jingah. Salah satu kelurahan di Banjarmasin juga dinamai sama dengan ulama ini (Kelurahan Surgi Mufti).

Tertarik melihat tempat-tempat dengan riwayat menarik ini? Segera pesan tiket pesawat murah di situs Airy, dan lakukan napak tilas berkesan ke lokasi-lokasi wisata religi bersejarah di Banjarmasin.
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Sudah terlalu lama saya tidak meng-update postingan diblog ini. Dan lumayan banyak cerita kehidupan saya yang terlewatkan begitu saja. Yah gitu deh, saya malas banget untuk menulis dan lebih rajin mendokumentasikan melalui video. Entah kenapa semangat menulis itu hilang begitu saja, padahal job melalui blog itu selalu aja ada kalo saya rajin untuk mengambilnya.

Postingan terakhir dibulan Agustus 2017 dan sekarang sudah mau dipenghujung bulan Oktober 2017. *Ya ALLAH, ampuni kesalahan dan dosa hambamu ini. Amin... #AkuKotorPenuhDosa*

Postingan kali ini saya mau bercerita tentang liburan lebaran Idul Fitri 1438 H (2017 Masehi) saya yang ke Malaysia. Jadi, saya ber-solo traveling kesana. Biasanya saya liburan ke Malaysia bareng teman - teman dan tidak pernah sendirian. Karena liburan lebaran cukup panjang dan mengajak teman dihari raya itu cukup susah. Yah udah, saya memutuskan untuk liburan sendirian aja kesana.

*ya iyalah chai pada nggak mau, lu pergi dihari lebaran pertama. -____-"*

Saya saranin bagi kamu yang mau liburan ke luar negeri untuk pertama kali khususnya solo traveling, yah negara yang masih masuk budget murah dan aman ke Malaysia aja.

Karena saya dari Batam jadi liburan ke luar negeri (Malaysia atau Singapore) berasa hemat banget walaupun itu di hari liburan besar keagamaan. Jika dibandingkan dengan liburan ke kota lain yaitu liburan dalam negeri. Secara yah kan harga tiket pesawat, kapal dan kereta pasti melambung naik dan sudah penuh untuk liburan dalam negeri. Tapi kalau kamu dari Batam mau ke Singapore atau Malaysia tiket kapal feri harganya standart aja tidak terjadi kenaikan.

Waktu itu harga tiket kapal feri PP Batam (Harbourbay) - Johor Bahru (Putri Harbour) adalah Rp. 305.000 (free shuttle bus larkin).
 
Oiya, saya dari Johor Bahru ke Kualu Lumpur naik pesawat terbang loh... #pamer

Kenapa saya naik Pesawat ? Karena di Malaysia itu hampir sama seperti di Indonesia kalo hari libur hari raya harga tiket bus bisa saja melambung naik dan penuh. Nah, untuk antisipasi harga tiket bus beda tipis dengan harga tiket pesawat. Mending saya ambil naik pesawat aja, selain itu hemat waktu juga.

Naik pesawat dari Johor Bahru ke Kuala Lumpur cuma 50 menit saja, sedangkan naik bus kurang lebih lama perjalanannya 6 jam.   

Yah, habisnya murah banget tiket pesawat PP Johor Bahru - Kuala Lumpur cuma Rp. 489.700. Saya ambil jadwal keberangkatan paling pagi sih, karena tiket termurah jam segitu. Hehehheheeheeeee....

Karena saya sudah malam tiba di Larkin dan Bus ke Senai Airport tidak ada lagi. Saya naik bus dari Larkin ke  JB Sentral dengan harga RM. 1.70 lalu nyambung dari JB Sentral ke Senai Airport RM. 4. Saya saranin naik Bus saja karena harga cukup murah dan nyaman.

Saya tidur di Bandara Johor Bahru (Senai Airport) dan Kuala Lumpur (KLIA2) untuk satu malam karena jam 5 subuh pesawatnya sudah berangkat. Saya buat rencana perjalanan juga tidak terlalu spesifik mau berkunjung kemana aja di Kuala Lumpur. Yah, pokoknya mau eksplore Kuala Lumpur naik bus gratis dan ke putrajaya.

Bandara KLIA2 itu ternyata luas banget, saya sampai disana langsung eksplore sana-sini karena saya akan menginap disana selama satu malam. Jadi harus tahu spot - spot mana aja yang aman dan nyaman untuk tidur. Tempat mandi, wifi, charger handphone pun tersedia disana.

Dari KLIA2 ke Puduraya saya naik Bus dengan harga RM. 12. Daripada naik KLIA Transit mending naik Bus karena lebih ekonomis dan lama perjalanan kurang lebih satu jam.  

Traveling yang menyenangkan bagi saya adalah pergi ke suatu tempat tanpa ekspektasi apa - apa. Dan pada saat tiba disana mendapatkan pengalaman diluar ekspektasi saya. Contohnya yah saya naik bus KL yang gratis, saya tidak tahu kalau bus itu akan membawa saya ke mana aja. Nah, pas saya didalam bus ketemu spot yang bagus langsung turun saja di Halte. Random banget kan. Heheheheheheee....

Btw, saya beneran naik semua moda transportasi yang ada di Malaysia mulai dari kapal laut, bus, train dan pesawat. Cuma satu yang saya tidak coba naikin yaitu taksi karena ongkos naik taksi lebih mahal untuk seorang diri. Kalo jalan rame - rame kan bisa share cost ongkosnya.








Terakhir saya ke Kuala Lumpur itu tahun 2013 dan pada saat kesana tahun ini banyak yang sudah berubah. Kotanya lebih tertata rapi dan transportasinya sudah cukup baik, saya sempat pangling dengan perubahan mereka. Yang dulunya kalo abis liburan kesana saya ogah mau kesana lagi tapi sekarang pengen maen kesana lagi. :-)

Oiya, waktu saya di Kualu Lumpur tanpa sengaja saya ketemu tempat belanja yang cukup murah yaitu didaerah chow kit. Disana tempat jual beli barang-barang yang lumayan murah harganya. Barang yang dijual seperti pakaian, sepatu badminton, tas dan lain-lain. Saya mah cuma window shopping aja, eh ada yang saya beli dinkz yaitu minyak wangi KW yang ukuran kecil karena sudah tanyain harga dan sok - sok nawar sama kakak penjualnya. Udah turun harga terus nggak jadi beli saya jadi nggak enak sendiri.

Di Putrajaya desain gedung - gedungnya bagus banget dan Masjidnya sangat besar. Enaknya lagi Bus untuk keliling disekitaran daerah sana gratis. Banyak Bus yang gratis deh di Malaysia itu, yah namanya juga gretongan pastinya pada desak-desakan dong. #tuing

Sebenarnya saya mau naik bus dari KL Sentral ke Putrajaya tapi karena saya ragu naik bus apakah ada atau tidak. Jadi saya memutuskan untuk naik KLIA Transit ongkosnya RM. 14. Cukup mahal sih harga segitu tapi ya sudahlah...






Yah begitulah cerita liburan saya solo traveling ke Kuala Lumpur. Sampai jumpa dicerita liburan saya selanjutnya... #bhay
  
Share
Tweet
Pin
Share
6 comments
*yang belum baca Part 1 dan Part 2*

Tidak banyak yang kami kunjungi di Kota Melaka, karena kotanya kecil dan tempat objek wisatanya berdekatan yah semuanya bisa kami libas dengan berjalan kaki. Disini banyak banget museum-nya, karena kami tidak suka dengan museum jadi tidak masuk kedalam. Lagian sekali masuk museum dikenakan biaya. Heheheheheeheee....

Dibawah ini daftar perjalanan saya ke Melaka :

1. Numpang Poto di Depan Gedung Museum

Karena masuk museum itu bayar dan kami tidak berniat untuk masuk, jadi yah numpang poto doang didepan gedungnya. Soalnya, warna cat gedungnya cetar membahana banget merah membara (sangat instagramers banget). 







Saya lupa ada bangunan seperti kapal apakah itu restaurant atau musium. Ini potonya...




2. Bukit St. Paul

Naik bukit ini lumayan ngos-ngosan juga dengan terik matahari yang cukup panas membara. Tapi kebayar deh setelah kita berada diatas dengan pemandangan laut. 



Dan saya juga berkunjung ke Gerejanya...



3. Menelusuri Pinggir Sungai Melaka

Sungainya bersih tidak ada sampah dan dipinggirnya sudah ada trotoar untuk pejalan kaki. Sangat nyaman untuk kita menelusuri sungainya. 




Dan malamnya kami menelusuri sungainya dengan boat. Pemandangan malamnya lumayan bagus dan durasi naik boatnya cuma sebentar. Jaraknya pun tidak terlalu jauh, boatnya mutar balik jadi tidak menelusuri sungai melaka secara keseluruhan.



4. Bangunan Merah Stadthuys

Gedungnya beneran warna merah membara dan disini ada jam gadangnya. Lokasinya pun ditepi jalan, jadi mudah banget untuk mencarinya. Dan seberang jalan sudah jonker walk.






5. Belanja di Jonker Walk

Disini tempat wisata kuliner dan belanja oleh-oleh, barang-barang yang dijual lumayan kreatif dan kulinernya beraneka macam. Ada satu kedai kopi yang pada ngantri kayak ular tangga, padahal kedai kopinya itu sangat kecil tapi yang ngantri panjang banget. Kami tidak ikutan antri juga karena tidak tahu makanan apa yang dijual mereka. Disini kami cuma jalan-jalan santai aja, tapi saya cuma beli tempelan kulkas yang harga RM. 10 dapat 4 buah. Hehheheheheheeeeeee..... :-) 






6. Mesjid Selat Melaka

Mesjid ini berada di tepi laut dan lumayan jauh dari pusat kota. Kalo kamu mau kesini harus naik taksi, kami pesan uber yang lebih murah harganya cuma RM. 6. Dan Mesjid Selat Melaka setelah sholat isya ditutup, jadi pengunjung nggak boleh diizinkan masuk kedalam.






Saya menghabiskan waktu 3 hari 2 malam di Melaka, dan sudah cukup puas buat saya menjelajahinya. Oiya, saya pulang ke Johor Bahrunya pisah sama kedua teman saya. Karena saya takut ketinggalan kapal ferry yang ke Batam. Tiket bus jam setengah satu cuma tinggal 2 lagi sedangkan kami bertiga, jadi saya beli yang ini dan mereka beli tiket yang jam berikutnya. Dipelabuhan Stulang Laut kita nggak ketemu pas di Batam ternyata kami sampai barengan cuma beda kapal ferry aja. :-)
Share
Tweet
Pin
Share
5 comments
Older Posts

About me


Selamat datang,

Saya hanyalah manusia biasa dan blog ini adalah sepenggalan kisah tentang perjalanan hidup saya yang terekam dalam tulisan.

Salam hangat,

Chai Loekman

Follow Me

  • twitter
  • youtube
  • instagram

Labels

Apartement buku celoteh Film Hostel Hotel Interview jalan - jalan kuliner lomba musik Puisi review tips tukang poto

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2023 (3)
    • ▼  October 2023 (3)
      • Liburan ke Bali
      • Menonton Konser Tulus
      • Nuvasa Bay : Tempat Terbaik Untuk Membeli Aparteme...
  • ►  2022 (9)
    • ►  December 2022 (1)
    • ►  November 2022 (2)
    • ►  October 2022 (1)
    • ►  September 2022 (2)
    • ►  February 2022 (3)
  • ►  2021 (10)
    • ►  September 2021 (2)
    • ►  June 2021 (3)
    • ►  May 2021 (3)
    • ►  April 2021 (1)
    • ►  March 2021 (1)
  • ►  2020 (18)
    • ►  December 2020 (3)
    • ►  November 2020 (2)
    • ►  October 2020 (4)
    • ►  September 2020 (7)
    • ►  August 2020 (1)
    • ►  June 2020 (1)
  • ►  2019 (9)
    • ►  November 2019 (1)
    • ►  September 2019 (1)
    • ►  August 2019 (2)
    • ►  June 2019 (3)
    • ►  April 2019 (1)
    • ►  January 2019 (1)
  • ►  2018 (20)
    • ►  December 2018 (2)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  September 2018 (1)
    • ►  August 2018 (1)
    • ►  July 2018 (4)
    • ►  June 2018 (2)
    • ►  May 2018 (2)
    • ►  April 2018 (3)
    • ►  March 2018 (2)
    • ►  January 2018 (2)
  • ►  2017 (22)
    • ►  December 2017 (2)
    • ►  October 2017 (2)
    • ►  August 2017 (2)
    • ►  July 2017 (1)
    • ►  June 2017 (4)
    • ►  May 2017 (3)
    • ►  April 2017 (1)
    • ►  March 2017 (3)
    • ►  February 2017 (1)
    • ►  January 2017 (3)
  • ►  2016 (53)
    • ►  December 2016 (1)
    • ►  November 2016 (7)
    • ►  October 2016 (2)
    • ►  September 2016 (2)
    • ►  July 2016 (4)
    • ►  June 2016 (5)
    • ►  May 2016 (6)
    • ►  April 2016 (7)
    • ►  March 2016 (7)
    • ►  February 2016 (7)
    • ►  January 2016 (5)
  • ►  2015 (28)
    • ►  December 2015 (4)
    • ►  November 2015 (5)
    • ►  October 2015 (2)
    • ►  September 2015 (3)
    • ►  August 2015 (2)
    • ►  July 2015 (2)
    • ►  June 2015 (1)
    • ►  May 2015 (3)
    • ►  April 2015 (3)
    • ►  March 2015 (2)
    • ►  February 2015 (1)
  • ►  2014 (26)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  September 2014 (1)
    • ►  August 2014 (1)
    • ►  July 2014 (3)
    • ►  June 2014 (2)
    • ►  May 2014 (3)
    • ►  April 2014 (5)
    • ►  March 2014 (4)
    • ►  February 2014 (3)
    • ►  January 2014 (3)
  • ►  2013 (66)
    • ►  December 2013 (6)
    • ►  November 2013 (4)
    • ►  October 2013 (3)
    • ►  September 2013 (4)
    • ►  August 2013 (4)
    • ►  July 2013 (5)
    • ►  June 2013 (5)
    • ►  May 2013 (5)
    • ►  April 2013 (7)
    • ►  March 2013 (7)
    • ►  February 2013 (7)
    • ►  January 2013 (9)
  • ►  2012 (58)
    • ►  December 2012 (5)
    • ►  November 2012 (5)
    • ►  October 2012 (5)
    • ►  September 2012 (5)
    • ►  August 2012 (2)
    • ►  July 2012 (7)
    • ►  June 2012 (8)
    • ►  May 2012 (6)
    • ►  April 2012 (1)
    • ►  February 2012 (5)
    • ►  January 2012 (9)
  • ►  2011 (52)
    • ►  December 2011 (3)
    • ►  November 2011 (5)
    • ►  October 2011 (3)
    • ►  September 2011 (7)
    • ►  August 2011 (4)
    • ►  July 2011 (4)
    • ►  June 2011 (7)
    • ►  May 2011 (3)
    • ►  April 2011 (5)
    • ►  March 2011 (11)

Followers

Total Pageviews

Most Popular

  • Liburan ke Lagoi ala Rakyat Jelata
    Jamaah Oooooiiiii Jamaah… *dilempar jumrah berjamaah* Siapa sih yang nggak suka dengan liburan murah dengan budget minim tapi bisa mel...
  • Liburan Koper ala Ransel ke Pulau Bintan
    Liburan yang paling menyenangkan menurut gue adalah… liburan ala ransel tapi dapat fasilitas ala koper. :-P  Pada ngerti nggak maksu...
  • Hari Untuk Amanda (2010)
    Kegalauan hati Amanda (Fanny Fabriana) dalam menentukan pilihan hatinya pada saat mau menikah 10 hari lagi sangat manis sekali untu...
  • Nyanyian Terakhir Sang Idola
    Wahai... Pemilik nyawaku Betapa lemah diriku ini Berat ujian dariMu Kupasrahkan semua padaMu "Muhasabah Cinta" ~ Iqbal Rois K...
  • Belajar Moto
    Gue sekarang lagi tertarik dengan dunia fotography. Maklum, yang dulunya suka poto-poto narsis bin najis ala lebay bin jijay. Sekarang lebih...

Community

Community
Member of Blogger Kepri

Created with by BeautyTemplates